Category Archives: PUISI

Puisi-puisi Alfin Rizal (Tempo, 28 April 2018)

ASTERIK

Asterik menjadi bintang
Ketika ia kehilangan tanda

menyulut pagi yang buta
kabut turun berebut embun
ibu menyapu halaman menyapa
segenggam doa salah alamat

gembira kuas berlumur tinta
galat tak salah jadi masalah
senyummu garis kesepian wajah
bertemu di punggung penuh rajah

Read the rest of this entry

Iklan

Seni Mencintai dan Mencintai Seni Ala Alfin Rizal dalam Esensialitas Cinta

textgram_1516446949

Judul : Kesengsem
Penulis : Alfin Rizal
Penerbit : literISI
Cetakan : Pertama, Juli 2017
Kedua, November 2017
Tebal : 78 halaman
ISBN : 978-602-60855-3-5

Berbicara soal seni, kita tentu akan diingatkan pada suatu wadah untuk menampung emosi yang datang dari seluruh tempat; dari langit, dari bumi, dari secarik kertas, dari bentuk yang lewat, maupun dari jaring laba-laba sekalipun. Karena tujuan seni tidak mereproduksi realitas, tetapi untuk menciptakan realitas intensitas yang sama. Banyak sekali yang mempertanyakan apa hubungan antara seni dan cinta. Erich Fromm, psikolog asal Jerman, mengatakan dalam bukunya The Art Of Loving, bahwa cinta adalah sebuah seni yang harus dimengerti dan diperjuangkan, karena cinta adalah jawaban dari masalah eksistensi manusia. Bentuk-bentuk kehidupan yang dipenuhi cinta kasih dan kasih sayang dapat membangkitkan kreativitas manusia. Contohnya, untuk mengungkapkan rasa kasih sayang dan cinta kasih dapat melalui beberapa media; melalui bahasa, lahirlah seni sastra; dengan garis, warna dan bentuk, lahirlah seni rupa; dengan nada, irama dan suara, lahirlah seni musik, dan lain sebagainya.

Read the rest of this entry

Puisi Hari Pahlawan

PAH, LAWAN!

/1/
november datang sepuluh hari yang lalu
dengan sisa-sisa sumpah para pemuda

tubuhnya kuyub diguyur hujan basah.
menyisakan bau kenangan masa penjajahan

malam ini ia mengunjungi isi kepalamu
menagih puisi tentang para pahlawan
“besok hari pahlawan, mana puisimu” katanya
“aku sedang menulisnya” katamu

/2/
november tidur di atas otak kecilmu
bermimpi tentang angka-angka dan namanya

sementara kau bertengkar dengan kata-kata
yang menolak kau jadikan puisi pahlawan

“pah, lawan!” kata puisimu meledekmu
“dasar! puisi jaman now!”
kutukmu.

Alfin Rizal, 2017

Purnama Pertama Kita

HEADER.jpg

picture by: FilmPict Studio

untuk ;’ibu terbaik’

1/

Sudah puluhan hari, sejak manik mata kita saling menangkap di teras rumahmu. Siang telah kalah bersaing dengan tajamnya rahasia di bibirmu–sementara aku tak pernah tahu apa yang akan kau ucapkan padaku; kala itu. Sedang suara udara malu-malu menghampiri telinga kita; dua manusia asing yang bertemu sebab suara dan memilih untuk saling menjadi muara.

2/

Malam itu, sayang–ketika pertama kali bibir kita saling mencibir dengan bahasa entah, jemari kita saling menjari dengan gerakan entah dan tubuh kita saling menyetubuhi dengan nafas entah–aku serupa bayi yang terbang sebab bayu. Sepoi-sepoi kuhisap juga keangkuhanku, kita berpapasan dengan paras yang menuntut pertanyaan-pertanyaan; siapakah kita?

Read the rest of this entry

Buku Puisi Kesengsem; Seni Mencinta dan Mencintai Seni

ar

Alfin Rizal – Penulis Buku Puisi Kesengsem (2017)

Oleh: Safar Banggai

Diktum yang cukup terkenal–menjadi klise bagi pecinta sastra–dari John Fitzgerald Kennedy (Presiden Amerika Serikat ke-35) bahwa jika politik itu kotor, puisi akan membersihkannya. Jika politik bengkok, sastra akan meluruskannya. Semacam mengabarkan kepada kita bahwa perihal kepenyairan bukanlah remeh temeh yang mesti kita pandang sebelah mata bahkan dua mata. Tidak.
Puisi itu kabar buruk untuk penguasa. Sebagaimana kepenyairan Widji Thukul, yang ditantang dan dihilangkan pada 1998. Puisinya juga menjadi syahadat oleh para demonstran di jalanan atau orang-orang yang menuntut keadilan di bawah langit ketidakadilan di negeri ini.
Puisi itu berjudul Peringatan; Read the rest of this entry

Cinta & Doa – Short Movie (2017)

 

Film Pendek produksi Film Pict Studio ini diangkat dari puisi saya yang berjudul “Hikayat Doa Puisi”. Pengisi suaranya saya sendiri dan Ummul Khair Ahmaya. Bekerjasama dengan FilmPict Studio dan Aruka Project, saya insya Allah akan membuat film lain dari naskah-naskah saya.

Salam, Alfin Rizal

PERIHAL BUKU KESENGSEM

Kepada Alfin Rizal
Kupersembahkan pungutan aksaraku untukmu. ─Mutia Senja
Selamat Kesengsem!

 

PERIHAL LUPA

Saat yang tak mungkin bisa

Kurindu-rindukan ialah lupa

Sebab lupa, kekasih

Adalah ketiadaan kisah dan kenangan

Dan kita menjalin keduanya

Hingga tumbuh mengakar dalam diri kita

Seberapa hebat kau berusaha

Untuk melupa dan dilupa

Kita tak akan pernah berhasil

Dengannya

Percayalah, kita tak akan

Pernah saling lupa

Meskipun jauh kita dipisahkan semesta

Percayalah, aku tak bisa

Melupakanmu

Aku percaya, kau tak bisa

Melupakanku

(2017)

Saya sangat terkesan dengan puisi di atas. Sangat! Sama halnya ketika disuguhi dengan pertanyaan, “bisakah kita jelaskan kemana rindu kita pergi saat pertemuan kita malam ini ?”. Bahkan saya tidak habis pikir, bagaimana rindu itu mengalir. Ia menyusup ke jantung lalu menggetarkan apa saja. Atau seperti puisinya “lupa”-nya Saut Situmorang, “Hujan dan Memori” (2013) ; mana mungkin hujan berhenti turun ke bumi, mana mungkin aku berhenti mengenangmu? mana mungkin kau berhenti melupakanku?

Read the rest of this entry

MESAM-MESEM MACA KESENGSEM

Oleh : A.C Andre Tanama

 

“Without love and laughter there is no joy; live amid love and laughter” (Horace, Epistles)

Jika boleh berandai, setidaknya–jika tak boleh dianggap seharusnya–saya mengenal Alfin Rizal sekitar empat tahun. Itu durasi waktu yang (jika) terhitung sejak 2013 ia kuliah di Seni Murni ISI Sewon. Tapi kenyataannya, barangkali saya baru mulai mengenalnya lebih dekat–meski tak sedekat pacarnya–sejak 2015.

Barangkali durasi dua tahun mengenal sosok Alfin Rizal belumlah cukup untuk mengenal detail dirinya. Tapi meskipun barangkali, barangkali adalah kemungkinan; dan bukan barang kali atau barang yang ada di kali (sungai) yang terbuang dan terbawa arus kali. Karena barangkali itu adalah sebuah kemungkinan, maka boleh saja Anda memercayai atau melupakan tulisan ini.

Read the rest of this entry

Hujat Bulan Juli

20375840_10208990629355304_8712034059877986380_n

HUJAT BULAN JULI

tak ada yang lebih begah
dari hujatan bulan Juli
diteriakannya rintih muaknya
kepada pohon bertuan itu

tak ada yang lebih congkak
dari hujatan bulan Juli
dihapusnya jejak-jejak baiknya
yang ragu-ragu diterima itu

tak ada yang lebih naif
dari hujatan bulan Juli
dibiarkannya yang tercampakkan
diserap akar umpatan bodoh itu

-Alfin Rizal
(2017)

*begah: (kbbi)= berasa penuh di perut karena terlalu kenyang dan sebagainya
*diolah dari sajak Sapardi berjudul HUJAN BULAN JUNI
———————————————-
HUJAN BULAN JUNI

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

-Sapardi Djoko Damono
(1989)

Puisik – “Sebab”

Judul Puisi : Sebab | Penyair : Alfin Rizal | Suara : Mutia Senja

 

Sweet Blasphemy

My so-called modern trash can

THE LIL PIECES OF ME

"If you are broken, you don't have to stay broken"

strukturdusta

like, share, aminkan.

CUIR LAMEN

kata ini aku tulis untuk para penikmatnya

ispasier

istana tinta cair: oleh-oleh dari tempat asing

FORUM PEGIAT LITERASI (FPL) PADANG PANJANG

Bergerak Menuju Padang Panjang Kota Literasi

MANTAN PLAYBOY

Setiap orang punya masa lalu.

Anis Samara

Membaca untuk Menulis

Candrasangkala & Rarasekar

Menulis adalah menjadi abadi