Puisi-puisi Alfin Rizal (Tempo, 28 April 2018)

ASTERIK

Asterik menjadi bintang
Ketika ia kehilangan tanda

menyulut pagi yang buta
kabut turun berebut embun
ibu menyapu halaman menyapa
segenggam doa salah alamat

gembira kuas berlumur tinta
galat tak salah jadi masalah
senyummu garis kesepian wajah
bertemu di punggung penuh rajah

geliat tubuhmu rubuh
menghadapi siang benderang
andai peluh ini mengeluh
kulit bakar jadi santapan nafkah

2018

 

SEBUAH IKLAN PUISI

ada jari-jari yang menghamba
di atas keyboard huruf dan angka

juga simbol-simbol tak tahu diri
menyusun dirinya menjadi pesan

tubuh puisi ini lapar, dan kau
mengeja luar kepala. ada apa dengan

puisi-puisi yang pucat pasi
pagi ini?

kau bermimpi; menjadi buronan polisi
sebagai pembunuh orang yang ceroboh
membunuh ibumu.

aku kesulitan memaafkan pembunuh ibuku
tetapi tidakkah lebih baik
kita menulis puisi?

2018

 

(Dimuat di Koran Tempo edisi Sabtu, 28 April 2018)

Iklan

About Alfin Rizal

Dalam sastra aku menuliskan cerita, menceritakan tulisan .. dalam seni rupa aku menanyakan semuanya

Posted on 28 April 2018, in PUISI and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Bocah Kampung

kenakalan adalah guru terbaik

Sweet Blasphemy

My so-called modern trash can

THE LIL PIECES OF ME

"If you are broken, you don't have to stay broken"

strukturdusta

like, share, aminkan.

CUIR LAMEN

kata ini aku tulis untuk para penikmatnya

ispasier

istana tinta cair: oleh-oleh dari tempat asing

FORUM PEGIAT LITERASI (FPL) PADANG PANJANG

Bergerak Menuju Padang Panjang Kota Literasi

MANTAN PLAYBOY

Setiap orang punya masa lalu.

Anis Samara

Membaca untuk Menulis

%d blogger menyukai ini: