Lubang dari Separuh Kepala Afrizal Malna dan Dosa-Dosa Editor Octopus

Lubang Dari Separuh Langit

Oleh: Prima Hidayah

Masalah besar pembaca Afrizal adalah mereka memuja sebelum membaca. Membongkar khasanah sastra Indonesia; Afrizal membawa pemberbaharuan, begitu ‘penguntitnya’ mengelu-elukan. Botak! Apanya yang pemberbaharuan? Saya tegaskan, Afrizal tidaklah sebesar delusi pemujanya!

Dalam Lubang dari Separuh Langit Afrizal ‘bingung’ menempatkan diri sebagai orang pertama atau orang ke tiga ketika bercerita. Itu sah sebagai gaya bercerita, tetapi saya syak; pada konteks ini Afrizal kebingungan. Bukan. Yang jadi masalah bukan bagaimana kalau seandainya saya dilahirkan sebagai perempuan (hal. viii), hal itu mulus ia tulis pada bab terakhir—nanti saya jelaskan kebingungannya.

Ketidakbiasaan latar dan kemutakhiran diksi Afrizal merupakan kemutlakan dalam setiap tulisannya. Aku ingin membuat kampung halaman dari potongan-potongan kuku (hal. 1). Siapa yang punya imajinasi akan hal semacam itu, selain si plontos—mungkin Iwan Simatupang—walau sampai akhir, kampung halaman itu hanya jadi latar cerita kulit muka.

Hampir saya dakwa Afrizal sebagai penulis ‘fiksi asli’. Ia seperti akan menulis sesuatu yang tidak diketahui; tidak ada rujukan referensi; tidak ada pada realita, manusia lebih baik kalau tidak memiliki kuku. Mereka akan menggunakan tangan seperti bibir untuk tersenyum (hal. 2). Pada bab “Kesunyian dari Potongan-Potongan Kuku” adalah bagian yang paling tulus saya benci, dalam arti iri; kenapa bukan saya yang menulisnya. Ia menceritakan bagaimana tokoh ciptaanya, si botak yang sudah hidup sebagai laki-laki selama 40 tahun ternyata seorang perempuan menurut rekaman potongan kuku yang dihamparkan di kasur. Aku tak muda lagi sebagai perempuan. Usiaku sudah 40 tahun. Tapi mungkin aku masih cantik dan masih perawan. Tapi tidak mungkin lagi aku kencing berdiri (hal. 10). Si tokoh memutuskan untuk meninggalkan kota yang menuakannya sebagai laki-laki dan pindah ke daerah bantaran. Ini awal persinggungannya dengan tokoh-tokoh lain, dan awal saya temukan keteledoran editor—di akhir tulisan akan saya lampirkan, dosa editor untuk bahan koreksi Penerbit Octopus.

Tokoh utama Afrizal bertemu dengan Neneng, pelacur asal Indramayu yang sudah memiliki calon suami di kampung halamannya. Lewat kalimat yang keluar dari Neneng pemahaman saya tentang perempuan bertambah kaya, kalau hanya cantik, tapi tidak genit, kelihatan membosankan (hal. 16), idem. Bersama Neneng tokoh utama Afrizal menemukan lubang berisi kedamaian yang hanya dimiliki oleh perempuan. Namun, begitu Neneng berangkat bekerja, tulisan Afrizal terbaca terburu-buru, tidak segan ia meninggalkan tokoh atau menggantungkan alur ceritanya, saat saya pikir itu akan berkembang, memanjang, dan menarik.

Nama Candi sebagai tokoh utama, Afrizal simpan sampai halaman 22—lewat perkenalannya dengan Salim. Neneng belum pulang, pintu rumahnya diketuk. Di balik pintu tergeletak seorang laki-laki penuh luka, Candi membopongnya masuk, merawatnya. Keesokan harinya pintu rumah Candi diketuk Salim, teman Jejak, laki-laki yang ia rawat. Salim menceritakan duel maut Jejak di atas perahu untuk mempertahankan kampung bantaran sungai itu. Tetapi Candi berkeberatan—menghilangkan nyawa adalah tetap menghilangkan nyawa—Ia akan melaporkan Jejak ke polisi. Salim bersikukuh. Kalau Jejak yang mati, bagaimana caranya kamu melaporkan lawannya (hal. 22). Bantahan Candi saya rasa identik dengan perkataan Nietczhe pada bukunya Sabda Zarathustra di halaman 68,  pintuku akan memilih orang yang masih hidup untuk masuk ke dalam rumahku (hal. 22).

Kepadatan kaledoskop absurd yang ditawarkan Afrizal meminta tumbal yang muskil, dan ia tergelincir. Sekali tapi fatal. Ia kebingungan harus menempatkan diri sebagai orang pertama atau orang ketiga, setelah Bayang, anak Neneng muncul. Bayang aku tinggalkan ke kamar mandi, karena memang aku harus mandi. Selama Candi mandi, Bayang duduk membaca koran. Wajahnya sangat serius, seperti lelaki dewasa yang menyimak berita dalam koran yang dibacanya dengan cermat (hal 27-28). Afrizal repot-repot mengubah sudut pandang aku menjadi orang ketiga serba tahu dengan menyebut ‘Candi’, hanya untuk menjelaskan Bayang membaca koran. Kalau sengaja, itu sama sekali tidak berguna—pola itu hanya muncul sekali, sedangkan absurditas khas Afrizal berulang beberapa kali: cara menemukan Neneng, kepulangan mereka ke Indramayu, atau kemunculan Jejak yang tak berlatar dan tiba-tiba. Namun, harus saya mafhumkan apa yang ia perbuat, sebab memang ada lubang dari separuh kepala Afrizal Malna yang isinya pergulatan dengan dirinya sendiri. Lalu, saya membacanya dan tertular. Cerdas!

Kaledoskop kembali Afrizal pertontonkan, tetapi tidak dibarengi absurditas—bagian yang paling saya iri darinya selesai. Setelah lebih dari 5000 kata Afrizal membangun ‘fiksi asli’, tepat pada halaman 40 ia masukkan bulat-bulat datanya. Tanpa abar-abar, ia menulis kehidupan melarat komune tukang becak bantaran yang berada diambang penggusuran—mengingatkan pada Sukardal dan pesan terakhirnya, Saya gantung diri karena becak saya dibawa anjing Tibum! (Majalah Tempo, 21/XVI/19-25 Juli 1986). Geliat hidup dan problematika orang bantaran ditulis dengan tajam, sinis, lagi rigit, pemerintah kota belum bisa menciptakan lapangan kerja, justru sibuk menghancurkan mata pencaharian rakyat kecil. Kemiskinan tidak punya pantat untuk dijilat (hal 42-43). Konflik meruncing saat salah seorang tukang becak ditabrak aparat. Becaknya diangkut. Pemiliknya digebuki dan dilempar ke jalan. Mayatnya tak terselamatkan lagi (hal. 51).

Aksi heroik Jejak mengahantam kepala aparat hingga sekarat saat penggusuran mengantarnya menjadi klimaks bagian pertama. Jejak dipenjar. ‘Kesinisan’ Afrizal tentang kehidupan penjara ditulis persis seperti desus yang saya dengar, lelaki memerkosa lelaki (hal. 61). Permasalahan disorientasi seksual, juga disampaikan dengan memikat; saat Jejak keluar dari penjara Candi mengajaknya tidur, untuk mengembalikannya seperti semula, tetapi Jejak telah melampaui tahap perasaan menyerah; melampaui tahap merasa kalah (hal. 63)—menjadi lelaki.

Bagian dua, “Senyum untuk Naik ke Langit” merupankan proses penulis menulis tulisan ini. Bayang—bukan Bayang anak Neneng—secara bergantian mengenakan baju tokoh-tokoh yang muncul pada bagian pertama. Tubuhku bereaksi berbeda sesuai dengan pakaian yang kukenakan (hal. 69). Mengenakan baju Candi, Bayang pergi ke tempat penggusuran. Ia bertemu Neneng, mereka mandi dan tidur bersama di rumah Candi; lelaki adalah tempat tidur yang terlalu berisik, kata Neneng (hal. 79). Keesokan harinya, mengenakan pakaian Jejak dan ikat pinggang Neneng, Bayang kembali ke tempat penggusuran.

Pergantian latar cerita Afrizal setelah Bayang bertemu Candi, terbaca terburu-buru bagi saya. Untung, pada pengatar ia menjelaskan bahwa Lubang dari Separuh Langit ditulis di Bali dengan ‘objek materi’ Jaringan Rakyat Miskin Kota, UPC di Jakarta. Kalau tidak, saya yakin tidak akan ada yang mengerti apa korelasi ngaben dan penggusuran; walau banyak keyakinan besar di dunia keliru, termasuk apa yang saya sangkakan pada tulisan novel ini. Lemari pakaianku kini mengeluarkan berbagai jenis bau manusia yang berbeda-beda. Juga bau sabun dan air mata (hal. 98), tutup Bayang.

“Tulisan Candi: Latar Depan dari Halaman Belakang”, ditulis dengan nafas yang sedikit berbeda; hampir tanpa pergulatan penulis dengan diri sendiri dan minim keabsurdan. Candi kembali dijadikan tokoh utama, Afrizal tidak berlama-lama dengan bangunan cerita sebelumnya. Setelah mengabarkan bahwa ada dua Bayang (yang kecil dan yang besar), pemahaman tentang kebenaran, dan kepulangan Neneng ke Indramayu, Candi dipertemukan dengan tokoh-tokoh baru. Lewat interaksi Candi dan bocah sembilan tahun bernama Mumu, Botak menyampaikan ketidakpercayaannya pada sekolah. Anak-anak bisa langsung belajar dari persoalan di sekitar mereka. Sekolah adalah akar untuk orang melakukan korupsi (hal. 104).

Bertemu dengan Ibu Timah, Mumu dan tokoh-tokoh baru , membuat saya merasakan kepadatan yang mencandu. Afrizal menumpahkan segala kejenakaannya, namun cara bercerita yang ‘normal’ memang bukan seperti Afrizal. Beberapa halaman setelah Mumu diperkosa di atas biduk, Candi tenggelam dengan begitu absurd, tiba-tiba menjalani kehidupan sebagai pelacur dengan tak kalah absurd. Menjadi seorang pelacur menurutku seperti melakukan dua hal sekaligus: pertama, memaksimalkan fungsi keperempuanku, dan kedua menghancurkan diriku sendiri sebagai manusia (hal. 132). Terlepas dari itu semua, saya mengakui kenyinyiran (dalam arti positif) seorang Afrizal Malna. Ia tidak segan mengantagoniskan protagonisnya, tidak ragu pula mematahkan argumen yang sudah dibangunnya. Dengan begitu, ia bisa menulis seenak batok kepalanya; tinggal logis atau tidak? Yang jelas, cerita ini gagal sebagai novel apabila Bayang pada bab dua tidak dipertemukan dengan Candi di akhir cerita.

‘Menghindari’ disebut kumpulan cerpen, Candi dipertemukan dengan Bayang di 10 halaman terakhir. Ada lubang di dada Bayang. Candi menutupnya dengan potongan kuku yang ia kumpulkan. Dan Afrizal menutup ceritanya. Bagi penyinyir lain macam saya, Afrizal adalah salah seorang panutan utama. Itu bukan pujian, Afrizal hanya penyinyir!

Membaca cerita Afrizal memualkan. Jadi memuakkan dengan saltik yang terkesan dibiarkan oleh editor dan pemeriksa aksara Penerbit Octopus. Memang ini perkara temeh, namun menggangu tetap memngganggu. Berikut dosa-dosa editor yang telah saya janjikan:

  1. Halaman 13, baris ke 10, neneng harusnya ditulis Neneng.
  2. Halaman 20, baris ke 5, melindunginya dirinya lebih baik ditulis melindungi dirinya.
  3. Halaman 25, baris ke 24, menantapku harusnya ditulis menatapku.
  4. Halaman 46, baris ke 25, dimana harusnya ditulis di mana.
  5. Halaman 46, baris ke 25, non motoris harusnya ditulis nonmotoris.
  6. Halaman 60, baris ke 19, memperkosa harusnya ditulis memerkosa.
  7. Halaman 75, baris ke 13 dan 17, eksprimen harusnya ditulis eksperimen.
  8. Halaman 96, baris ke 9, kesub-uran lebih baik pemenggalannya ditulis kesu-buran.
  9. Halaman 100, baris 22, mempercayainya harusnya ditulis memercayainya.
  10. Halaman 111, baris ke 6, dari ditulis dobel.
  11. Halaman 152, baris ke 11, terurung harusnya ditulis terkurung.

Sudah!

—————————————————————————————————————–

Tentang Penulis:

Prima Hidayah,  pengepulpetang di beranda Radio Buku.

@pengepulpetang (Instagram)

Iklan

About Alfin Rizal

Dalam sastra aku menuliskan cerita, menceritakan tulisan .. dalam seni rupa aku menanyakan semuanya

Posted on 1 Februari 2018, in NOVEL, review, review novel and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Bocah Kampung

kenakalan adalah guru terbaik

Sweet Blasphemy

My so-called modern trash can

THE LIL PIECES OF ME

"If you are broken, you don't have to stay broken"

strukturdusta

like, share, aminkan.

CUIR LAMEN

kata ini aku tulis untuk para penikmatnya

ispasier

istana tinta cair: oleh-oleh dari tempat asing

FORUM PEGIAT LITERASI (FPL) PADANG PANJANG

Bergerak Menuju Padang Panjang Kota Literasi

MANTAN PLAYBOY

Setiap orang punya masa lalu.

Anis Samara

Membaca untuk Menulis

%d blogger menyukai ini: