Purnama Pertama Kita

HEADER.jpg

picture by: FilmPict Studio

untuk ;’ibu terbaik’

1/

Sudah puluhan hari, sejak manik mata kita saling menangkap di teras rumahmu. Siang telah kalah bersaing dengan tajamnya rahasia di bibirmu–sementara aku tak pernah tahu apa yang akan kau ucapkan padaku; kala itu. Sedang suara udara malu-malu menghampiri telinga kita; dua manusia asing yang bertemu sebab suara dan memilih untuk saling menjadi muara.

2/

Malam itu, sayang–ketika pertama kali bibir kita saling mencibir dengan bahasa entah, jemari kita saling menjari dengan gerakan entah dan tubuh kita saling menyetubuhi dengan nafas entah–aku serupa bayi yang terbang sebab bayu. Sepoi-sepoi kuhisap juga keangkuhanku, kita berpapasan dengan paras yang menuntut pertanyaan-pertanyaan; siapakah kita?

3/

Rasanya, suara telah menjadi awal setiap ikhwal kita. Dan ternyata kedatanganku, bukanlah sebab musabab penting. Ada yang lebih berperan dalam panggung peran kita, sayang! Doa. Kau tentu ingat bagaimana aku membelah lalu lintas untuk menemukanmu di antara kerumunan yang mengerumunimu, tanpa kusadari aku menjemputmu dengan perasaan cemburu–yang mungkin buta. Ya, sebab doaku tak punya mata, sayang..

4/

Kini kekasihku, purnama pertama telah kita lewati dengan tangan-tangan pandai kita yang lihai untuk saling mengait. Purnama pertama kita juga telah kita lalui dengan cerita-cerita lalumu yang terkadang pahit–untuk kudengar. Bahkan, purnama pertama kita telah banyak memeluk penuh semua pemilik; cinta. Kita tidak hanya menaklukkan puncak berdua, menghabiskan bincang berdua, menyusuri jalan berdua! Tidak, kita lebih dari itu, sayang!

5/

Purnama pertama kita, melingkar dan menebar bintang-bintang yang berpendar. Aku dahaga dan kau sumber air; itulah purnama.

Sayang,
Aku mencintaimu seperti purnama mencintai namanya. Peluklah terimakasihku, ciumlah rasa cintaku dan milikilah doa-doaku.

Djogjakarta, 14 September 2017
Alfin Rizal

Iklan

About Alfin Rizal

Dalam sastra aku menuliskan cerita, menceritakan tulisan .. dalam seni rupa aku menanyakan semuanya

Posted on 21 September 2017, in PUISI, Puisi Cinta, Puisi umum, True Story and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Bocah Kampung

kenakalan adalah guru terbaik

Sweet Blasphemy

My so-called modern trash can

THE LIL PIECES OF ME

"If you are broken, you don't have to stay broken"

strukturdusta

like, share, aminkan.

CUIR LAMEN

kata ini aku tulis untuk para penikmatnya

ispasier

istana tinta cair: oleh-oleh dari tempat asing

FORUM PEGIAT LITERASI (FPL) PADANG PANJANG

Bergerak Menuju Padang Panjang Kota Literasi

MANTAN PLAYBOY

Setiap orang punya masa lalu.

Anis Samara

Membaca untuk Menulis

%d blogger menyukai ini: