Buku Puisi Kesengsem; Seni Mencinta dan Mencintai Seni

ar

Alfin Rizal – Penulis Buku Puisi Kesengsem (2017)

Oleh: Safar Banggai

Diktum yang cukup terkenal–menjadi klise bagi pecinta sastra–dari John Fitzgerald Kennedy (Presiden Amerika Serikat ke-35) bahwa jika politik itu kotor, puisi akan membersihkannya. Jika politik bengkok, sastra akan meluruskannya. Semacam mengabarkan kepada kita bahwa perihal kepenyairan bukanlah remeh temeh yang mesti kita pandang sebelah mata bahkan dua mata. Tidak.
Puisi itu kabar buruk untuk penguasa. Sebagaimana kepenyairan Widji Thukul, yang ditantang dan dihilangkan pada 1998. Puisinya juga menjadi syahadat oleh para demonstran di jalanan atau orang-orang yang menuntut keadilan di bawah langit ketidakadilan di negeri ini.
Puisi itu berjudul Peringatan;

apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan!

Puisi itu bisa menjadi arah gerakan para aktivis jalanan, bisa juga menjadi kalimat-kalimat gombal dari lelaki perlente perkotaan. Dan bisa juga menjadi pengantar tidur untuk dua sijoli yang sedang jatuh cinta. Lebih dari itu, puisi adalah medium untuk membahasakan hati, laut, langit, gunung, bumi, dan hal-hal yang kita anggap tidak memenuhi kriteria “penting”.
Puisi yang cukup menyita waktu para pengagum cinta adalah puisi Sapardi Djoko Damono dengan judul “Aku Ingin”:

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

 

Atau yang lebih kekinian adalah puisi Aan Mansyur. Saya kutip dua bait pada judul “Batas”: Apa kabar hari ini? / Lihat tanda tanya itu jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi
Tema cinta masih menjadi sentral para penyair Indonesia. Tak luput juga karya-karya Alfin Rizal dalam buku “Kesengsem” ini. Perpaduan antara seni mencinta dan mencintai seni begitu dekat dalam bait-bait puisintya. Lihat saja puisi “Cumbu Rupa” pada halaman 48:

sebab cinta
bisa mewujud dalam
segala rupa,
maka kita adalah
bagian dari rupa itu,
kekasih

kau cat merah,
dan aku adalah kuas penuh gairah
kita bercumbu
dan merupa
dalam bentang nafas
kanvas kehidpuan
(2017)

Alfin adalah mahasiswa Seni Rupa Institut Seni Indonesia Yogyakarta, yang begitu getol mencintai dan menulis puisi. Ia mencoba mengelaborasikan antara puisi dan rupa atau puisi rupa, dan itu patut kita apresiasi.

Pro dan kontra tidak hanya terjadi dalam dunia perpolitikan, dalam kepenyairan pun sama. Perseteruan yang masih hangat adalah antara Saut Situmorang dan Denny JA, yang berakhir di pengadilan.
Pada puisi “Aku Bukan Sapardi”, Alfin tidak ingin melawan dengan cara membabi buta kepada Eyang Sapardi Djoko Damono. Penulis “Lelaku” ini mencoba menjawab keresahannya bahwa puisi fenomenal “Aku Ingin” terlalu absurd untuk disederhanakan.

Puisi “Aku Bukan Sapardi” nampak pada halaman 23:
jangan ingat lelaki hujan di bulan Juni
saat kukatakan bahwa aku mencintaimu
dengan sederhana

sebab kesederhanaan cintanya
lebih rumit dari kesabaran
yang batasnya tiada

atau lebih menjengkelkan dari ketenangan
yang bergejolak membuat tiada

cintaku padamu sederhana saja
yang tak perlu kau ibaratkan
hanya perlu mengerti dan rasakan

sebab cintaku lebih sabar dari api
yang mengubah kayu menjadi abu
dan cintaku juga lebih tabah dari
ketiadaan awan yang dihapus hujan

sebab kau adalah hujanku
(2017)

Saya kira Eyang Sapardi semestinya membaca puisi ini agar beliau jangan keseringan mengibaratkan sesuatu menjadi muskil.
Saya malas melanjutkan tulisan ini sebab sebatang rokok telah lenyap / menjadi puisi tentang kau / secangkir kopiku juga habis / menjelma sajak hingga berbaris-baris (Menjelma; hlm 9)

Safar Banggai
Pengagum Alfin Rizal

Iklan

About Alfin Rizal

Dalam sastra aku menuliskan cerita, menceritakan tulisan .. dalam seni rupa aku menanyakan semuanya

Posted on 18 September 2017, in PUISI, review and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Sweet Blasphemy

My so-called modern trash can

THE LIL PIECES OF ME

"If you are broken, you don't have to stay broken"

strukturdusta

like, share, aminkan.

CUIR LAMEN

kata ini aku tulis untuk para penikmatnya

ispasier

istana tinta cair: oleh-oleh dari tempat asing

FORUM PEGIAT LITERASI (FPL) PADANG PANJANG

Bergerak Menuju Padang Panjang Kota Literasi

MANTAN PLAYBOY

Setiap orang punya masa lalu.

Anis Samara

Membaca untuk Menulis

Candrasangkala & Rarasekar

Menulis adalah menjadi abadi

%d blogger menyukai ini: