Dewi Kharisma : “Mengenai LELAKU”

14704920_358173214523390_5106808010064265216_n.jpgDalam salah satu cerpennya yang berjudul Bumi, Alfin Rizal mengisahkan tentang seorang anak yang merindukan dongeng-dongeng yang diceritakan ibunya untuknya. Persis seperti itulah kesan saya membaca cerpen-cerpen Rizal dalam kumpulan cerita pendek ini. Saya seakan membaca kumpulan cerita dongeng: tidak banyak bersolek dengan kata-kata dan merumit-rumitkan dalam bercerita. Narasinya mulus, dialog-dialognya tangkas. Seluruh cerita menyelipkan pesan moral, bukan yang menggurui, melainkan jenaka. Karenanya, bisa pula kita memposisikan diri sedang membaca dongeng dengan gaya cerita ala seri “Mati Ketawa”.

Apa yang khas dari “Mati Ketawa” ala Rizal? Pertama, karena ia bercerita tentang dunia yang dekat dengannya, dunia seni dan seniman, maka dengan entengnya narator-narator dalam ceritanya menjabarkan stereotipe-stereotipe seniman yang membikin pembaca—yang meski tak berlatar belakang seni—tersenyum-senyum. Berikutnya, karena ia bercerita tentang keseharian orang biasa dengan tuturan yang jujur ala orang biasa, maka dapat kita harapkan ia merepresentasikan sedekat-dekatnya diri sang narator dan diri kita sebagai pembaca.

Rupa keseharian seorang seniman dapat kita lihat dalam sekian cerpennya. Percakapan macam apa yang bakal terjadi di antara seorang mahasiswa seni dengan tukang tambal ban motornya soal fashion “tanpa jiwa” para seniman kiwari? Atau bagaimana tanggapan seorang mahasiswa seni yang kritis terhadap basa-basi dalam sambutan-sambutan acara sekelas dies natalis di kampusnya dan terhadap isi dari pameran dalam acara itu?

Berbeda dengan orang lain, dan menjelaskan pandangan seniman yang nyentrik, narator dalam kisah Rizal misalnya tidak memaksakan pandangannya terhadap sesuatu. Dalam cerpen Kapasitas, kepada seorang bergaya ala seniman yang tampaknya tak dihargai oleh orang lain, naratornya hanya memberi sebutan “tukang ngimpi”. Ia bahkan bermain-main dengan istilah ‘abnorma’, untuk menyitir ‘abnormal’.

Dengan ringan, dalam cerpen berjudul Metafora, narator Rizal dalam suatu kelas perkuliahan mengajukan pertanyaan-pertanyaan ontologis yang menyoalkan “apa itu seni”. Alih-alih menggantungkan jawaban atas pertanyaan itu, di akhir cerita pembaca semestinya dapat menangkap pandangan Rizal yang dituangkannya dalam fiksinya ini: betapa seni amat bersifat personal, menyitir sebuah ujaran: bagimu senimu, bagiku seniku.

Berdekade-dekade silam, lewat Nota Over de Volkslectuur Penerbit Balai Pustaka pernah melarang terbit fiksi-fiksi dengan bahasa ala Melayu Pasar. Lewat terbitan-terbitannya, mereka memperkenalkan gaya bahasa baku dalam penulisan karya sastra. Dengan pembakuan seperti itu, usaha eksperimental atau ala-ala mbeling dan cerita-cerita stensilan tak mungkin mendapatkan tempat terpandang. Imbasnya, ada kemungkinan sejak saat itu masyarakat pembaca mengalami keterputusan bacaan. Mengapa? Bisa jadi, lantaran bagi sebagian besar masyarakat di negara ini, cerita dengan gaya Melayu Pasar-lah yang paling memperoleh tempat di hati pembacanya. Karena bahasa penulis cerita-cerita Melayu Pasar itu dekat dengan bahasa pembacanya. Gaya bercerita Rizal dalam Sambutan Orang Gila, Percakapan di Negeri Topeng, ataupun sekian cerpennya soal kehidupan Sulastri, Supri, Marno, dan Paimo bisa jadi memperbaiki “jembatan putus” itu. Masih menyoal bahasa, meski di beberapa bagian narasi Rizal masih tampak kekeliruan tata bahasa dasar, seiring jalan Rizal tentu dapat mengupayakannya agar menjadi lebih baik.

Hal apa lagi yang merefleksikan cerita ala Melayu Pasar? Selain dengan bahasanya yang begitu lentur, melompat dari bahasa Indonesia sehari-hari ke aksen Jawa, semesta cerita Rizal pun kuat akan unsur yang dekat dengan tradisi masyarakat Jawa. Lewat Sulastri, Supri, Marno, dan Paimo ia menghadirkan suasana domestik pada umumnya, dan dalam cerpen Pasan, ia membawakan setting sebuah pondok pesantren.

Pada akhirnya, berancang-ancang lewat epilog yang begitu bersemangat dari salah seorang tokoh fiksinya, Supri, kita semestinya dapat berharap akan menemukan pencarian yang lebih dalam tentang keseharian seniman dan orang biasa dalam cerita-cerita Rizal di masa mendatang.

 

Dewi Kharisma Michellia,

Penulis ELEGI

Iklan

About Alfin Rizal

Dalam sastra aku menuliskan cerita, menceritakan tulisan .. dalam seni rupa aku menanyakan semuanya

Posted on 3 Mei 2017, in Cerita Kita, review and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Bocah Kampung

kenakalan adalah guru terbaik

Sweet Blasphemy

My so-called modern trash can

THE LIL PIECES OF ME

"If you are broken, you don't have to stay broken"

strukturdusta

like, share, aminkan.

CUIR LAMEN

kata ini aku tulis untuk para penikmatnya

ispasier

istana tinta cair: oleh-oleh dari tempat asing

FORUM PEGIAT LITERASI (FPL) PADANG PANJANG

Bergerak Menuju Padang Panjang Kota Literasi

MANTAN PLAYBOY

Setiap orang punya masa lalu.

Anis Samara

Membaca untuk Menulis

%d blogger menyukai ini: